Benteng Otanaha – Gorontalo

<div class=”MsoNormal” style=”text-align:justify;”>Di balik sebuah benteng, pastilah ada sejarah besar yang tercatat pada kegagahannya. Sama seperti Benteng Otanaha yang berdiri pada bukit di seberang danau Limboto. Dikelilingi bukit dan pepohonan serta danau (yang sekarang pendangkalannya semakin serius), benteng yang dibangun bangsa Portugis di abad 15 atas permintaan Raja Ilato (Matolodolakiki) ini masih terlihat kokoh dengan pemandangan indah.

 

 

<div class=”MsoNormal” style=”text-align:justify;”>Sebenarnya agak janggal ada sebuah benteng di seberang sebuah danau, sehingga disinyalir dulu ada jalan tembus antara laut dengan danau Limboto sehingga kapal-kapal bisa berlabuh di Limboto. Benteng Otanaha sendiri menjadi saksi pertempuran kerajaan Gorontalo dan Limboto serta bersatunya kedua kerajaan bersaudara tersebut untuk balik melawan Portugis.

 

<div class=”MsoNormal” style=”text-align:justify;”>Benteng Otanaha dibangun dari campuran batu kapur dan putih telur burung Maleo sebagai perekatnya. Benteng ini memiliki 4 tempat persinggahan dengan total 348 anak tangga. Selain Otanaha, ada dua benteng lain yang tersambung satu sama lain, yaitu Benteng Otahia dan Ulupahu.

 

<a name=”more”></a><b>Perjalanan ke Gorontalo</b>

Yak, itu tadi sejarah dan penjelasan tentang Benteng Otanaha. Saya dan teman kos saya (Hudi, Nurul, Akbar) menempuh perjalanan darat dari Manado ke Gorontalo selama 9 jam, perjalanan paling melelahkan dan memabukkan yang pernah saya tempuh. Kami ke Gorontalo untuk mengunjungi anak dari pemilik kos kami yang akrab kami panggil dengan Oma Nona. Setelah beristirahat semalam, kami diajak ke benteng Otanaha ini.

 

<b>Menaklukan Anak Tangga</b>

Jujur, kami sebenarnya tidak tahu kemana saja destinasi wisata di Gorontalo. Bahkan kami sama sekali tidak browsing tentang Gorontalo, benar-benar tanpa rencana dan cuma <i>ngikut</i> saja mau dibawa kemana nantinya. Setelah berkendara sekitar 20-30 menit dari pusat kota, sampailah kami di Benteng Otanaha.

 

Hawa sejuk masih terasa disini dan tanpa dikomando, kami yang seperti ayam lepas langsung berfoto ria di pintu masuk benteng. Puas berfoto sebentar di pintu masuk, kami pun langsung menaiki anak tangga tanpa bertanya-tanya lagi. Barulah setelah naik, kami menyadari bahwa Oma dan anak menantunya tidak ikut naik, pasti melelahkan bagi mereka, begitu pikir kami. Hup..hup… kami langsung saja melanjutkan menaklukan ratusan anak tangga itu.

 

 

Di tempat peristirahatan, kami berhenti dan menikmati pemandangan Danau Limboto sambil berfoto-foto. Untungnya kami membawa air mineral, jadi nggak sampai pingsan di anak tangga. Kalau pingsan, tinggal di tendang dan <i>nggelundung</i> dari atas, hehehe. Sampai di puncak, kami terkaget-kaget karena Oma Nona dan anak mantunya sudah menunggu di atas sambil ketawa ketiwi.

“Kiapa ngana so lama sekali (Kenapa kamu lama sekali),” seru Oma

 

Ternyata ada jalan mobil untuk ke atas benteng dan mobil bisa diparkir di atas. Tau begitu nggak perlu susah-susah naik anak tangga, eh tapi nggak seru juga kalau langsung naik mobil ke puncak Benteng.

 

 

Ota artinya benteng. Naha adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Arti dari Otanaha adalah benteng yang ditemukan Naha</div>

 

<div class=”MsoNormal”></div>

 

<div class=”MsoNormal”><b>Otahia</b>

Ota artinya benteng. Hiya akronim dari Ohihiya (istri Naha). Arti dari Otahia adalah benteng milik Ohihiya</div>

 

<div class=”MsoNormal”></div>

 

<div class=”MsoNormal”><b>Ulupahu</b>

Ulu akronim dari Uwole (milik dari). Pahu adalah anak Naha. Jadi Ulupahu adalah benteng milik Pahu</div>

 

<div class=”MsoNormal”></div>

 

<div class=”separator” style=”clear:both;”></div>

 

<div class=”MsoNormal”><b>Lokasi:</b>

Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo</div>

 

 

 

 

<td class=”tr-caption” style=”text-align:center;”>Hudi, Nurul, Akbar, Saya</td>

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *