Ngabuburit di Trowulan Mojokerto, Menyusuri Serpihan Sejarah Majapahit

Halo semua, salam jalan dan jajan.
Gimana puasaannya? sebulan gak berasa ya, besok sudah masuk bulan Syawal aja.

Hari sabtu lalu, kami yang mudik sudah tiba di Surabaya, di Sidoarjo tepatnya. Karena kami masih punya kewajiban untuk melaksanakan upacara bendera, memperingati Hari Lahir Pancasila, maka kami pagi-pagi sudah siap pergi upacara. Prosesi upacaranya hanya sejam, dan hari masih panjang. Kemudian kami sekeluarga sepakat untuk jalan-jalan yang ke luar kota, tapi yang masih terjangkau jaraknya, diputuskan untuk mengunjungi Kabupaten Mojokerto. Sebuah kota dengan peninggalan sejarah yang cukup banyak, sebut saja situs peninggalan Kerajaan Majapahit, situs Manusia Purba, dan lain-lain.

Lebih spesifik lagi, di Kabupaten Mojokerto kami hanya mengunjungi Kecamatan Trowulan. Berbekal peta dijital, kami mulai menentukan rute terbaik untuk mengeksplorasi beberapa tempat.

Kami start dari Surabaya, ke arah Tunjungan Plaza terlebih dahulu untuk menjemput 2 orang lagi, lalu berbalik arah kembali menuju Bundaran Waru, untuk kemudian masuk jalan tol arah Mojokerto. Siapkan saja isi kartu tol cukup banyak, kalau tidak salah satu jalan bayar tolnya sekitar empat puluh lima hingga enam puluh ribu rupiah, lupa tepatnya berapa.

lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Wringin Lawang, candi ini terletak di Jatipasar, dan merupakan situs pertama yang dilewati jalur perjalanan kami. Selepas parkir kendaraan, kami melapor ke sebuah pos di sebelah pintu masuk. Untuk masuk ke area candi ini, tidak dikenakan tarif khusus, cukup mengisi buku tamu dan berikan se-ikhlas-nya.

Candi ini sebenarnya merupakan sebuah gapura, atau gerbang. Terdiri dari dua menara setinggi sekitar 5 meter, terbuat dari bata merah yang berdiri berdampingan, di bagian tengah ada undakan dan pelataran dengan lebar sekira 3 meteran. Model gerbang atau gapura ini mirip yang umum ada di Bali. Dari beberapa sumber tulisan daring, ada yang menyebutkan bahwa ini merupakan gerbang masuk ke Majapahit, ada juga yang menyebutkan ini adalah gerbang masuk ke Kompleks Tempat Tinggal Gajah Mada. Apapun itu, kami sama sekali tidak mendapatkan informasi dari sumber resmi di sana.

Lingkungan sekitar candi dikelilingi oleh taman bunga yang tertata dengan baik, sangat baik malah. Lebih luar lagi dari tembok pembatas, bagian belakang didominasi oleh kebun Tebu, sedangkan kiri dan kanan diapit oleh rumah-rumah penduduk.

Saat kami tiba sepi sekali, tidak ada 1 pengunjung lain pun, hanya ada 2 keluarga lagi baru datang saat kami sudah akan beranjak pergi. Petugasnya pun hanya ada di pos lapor pengunjung saja.

Berikut beberapa foto di lokasi:

This slideshow requires JavaScript.

Puas berfoto dan menyukuri indahnya kompleks Candi Wringin Lawang, perjalanan kami lanjutkan ke Museum Trowulan. Waktu yang ditempuh tidak terlalu lama, hanya sekitar 15-20 menit dengan kecepatan sedang. Lokasinya sebelah Kantor Kecamatan Trowulan.

Sayang sekali museum yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sudah tutup karena memasuki cuti bersama libur Hari Raya Idul Fitri. Padahal saya membayangkan akan banyak sekali informasi mengenai berbagai situs sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit di museum ini. Kalau bisa saran, justru unit kerja pelayanan seperti ini harusnya tetap buka, karena pasti akan banyak pengunjung yang berlibur.

Tapi walaupun museumnya tutup, di bagian belakang ada bangunan terbuka yang memajang banyak patung batu dan prasasti yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Mojokerto, serta 3 lapangan galian situs rumah tradisional, yang bisa dilihat pengunjung. Di museum ini tidak dipungut biaya apapun, karena memang museumnya yang tutup.

This slideshow requires JavaScript.

Tujuan berikutnya adalah Candi Bajang Ratu, berjarak 2 km dari Museum Trowulan, menyusuri Jalan Pendopo Agung, lalu dari perempatan ambil arah ke kiri ke Jalan Jayanegara.

Candi Bajang Ratu hampir mirip dengan Wringin Lawang, tapi yang ini bukan berupa gapura, karena pelataran di antara kedua menara hanya sekitar 1 meter saja lebarnya. Masih sama terbuat dari bata merah, sepertinya untuk Candi dan Petilasan Kerajaan Majapahit di sekitar Jawa Timur ini didominasi oleh bahan bata merah, dengan bentuk yang saling mirip seperti gapura yang ada di Bali.

Di sini pengunjung dikenai karcis retribusi senilai Rp. 3.000,00 per orang. Candi Bajang Ratu ini tidak boleh dinaiki, terpampang jelas papan larangan tepat di undakan tangga nya. sepertinya candi ini memang sudah rapuh dan untuk menjaga agar tidak sampai rusak maka dilarang untuk dinaiki dan disentuh. Sebagaimana lokasi lain di sini juga dikelilingi oleh taman bunga yang tertata sangat rapi.

This slideshow requires JavaScript.

 

Lokasi candi terahir yang kami kunjungi sebelum kami kembali ke Surabaya untuk mengejar waktu iftar adalah Candi Tikus. Candi ini dinamakan Candi Tikus bukan karena bentuknya mirip tikus atau ada pahatan relief tikusnya, tapi diambil dari kejadian saat candi ini ditemukan dan mulai digali. Saat itu ketika Candi ini mulai ditemukan dan digali (karena terbenam di dalam tanah sawah) banyak ditemukan sarang tikus.

Ketika tiba pengunjung diarahkan ke loket yang ada di pintu masuk untuk mengisi buku tamu. kemudian ada jalan setapak yang mengarah ke situs candinya.

Candi Tikus bukan berupa candi sebagaimana umumnya, ataupun gapura seperti di Candi Wringin Lawang. Ini lebih seperti kolam pemandian, mengingatkan pada pemandian yang ada di Kompleks Ratu Boko, namun di sini masih sama didominasi oleh bahan bata merah.

Di bagian belakang, ada pohon beringin besar yang sejuk ditengah panasnya cuaca hari itu. Kami duduk-duduk dan rebahan di bangku tembok di bawahnya, sekadar rehat sekitar 30 menitan.

This slideshow requires JavaScript.

Dengan kaki yang sudah pegal, serta tenggorokan yang mulai kering, karena cuaca saat itu terik sekali, kami putuskan untuk kembali ke Surabaya. Sebuah pengalaman yang luar biasa menyusuri candi-candi batu merah khas peninggalan Majapahit di Mojokerto ini, kalau ada waktu silahkan teman bisa menyusurinya hanya dalam satu hari saja.

komentarmu?